Minggu, 02 Februari 2014

Hindari Demokrasi Hitam 2014

Ikrar Nusa Bhakti
Permasalahan korupsi, pembangunan, kematian ibu, dan kemandirian industri menunjukkan betapa pasangan calon presiden dan wakil presiden pada pemilu presiden langsung 9 Juli 2014 benar-benar memiliki beban yang berat untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik pada 2014-2019. Jargon-jargon politik seperti ”Katakan tidak pada korupsi” sudah pasti tidak laku lagi dijual kepada rakyat. Persepsi pemimpin/presiden di mata rakyat juga sangat berubah dari yang dulu harus berasal dari militer, kuat, tegas, menjadi jujur, merakyat, berani mengambil risiko dalam membuat kebijakan, dan siap bekerja keras. Kriteria pandai pun bukan menjadi penentu keterpilihan seseorang, apalagi tidak sedikit orang pandai yang terkena kasus korupsi.

Pasangan capres/cawapres juga harus memiliki dukungan finansial yang tinggi. Dari sisi ini, posisi partai yang sedang berkuasa atau berada di kubu oposisi tentunya memiliki kapasitas finansial yang berbeda. Pasangan capres dan cawapres juga harus memiliki tim sukses yang mempersiapkan program yang akan dijual dan juga bagaimana memasarkannya melalui kampanye, termasuk saat terjadi debat publik secara langsung yang diliput televisi. Kepemilikan data yang akurat, kemampuan menjual program, penguasaan masalah, political branding, dan juga cara capres/cawapres berdebat dalam debat publik itu juga akan menentukan apakah rakyat akan menjatuhkan pilihan kepada mereka.
Apabila dilihat dari jejaring sosial yang dimiliki setiap pasangan, Jokowi tampaknya memiliki jejaring sosial tersebut secara luas di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tidak sedikit relawan yang secara sukarela mau berkampanye untuk dirinya, khususnya anak-anak muda dan mereka yang aktif di media sosial. Namun, apabila politik hitam dimainkan oleh partai ataupun pasangan calon yang memiliki kedekatan atau akses ke institusi-institusi negara yang mampu melakukan kampanye hitam ataupun propaganda politik yang negatif, ini dapat saja mengurangi tingkat keterpilihan partai pengusung ataupun pasangan yang menjadi target operasi politik hitam tersebut.
Politik hitam bisa kita lihat dari upaya penggelembungan daftar pemilih tetap seperti yang terjadi pada Pilkada Papua 2012, Pilkada Jatim 2008, dan Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2009. Anehnya, peningkatan jumlah pemilih yang amat drastis di sejumlah wilayah justru dilegalisasikan oleh aparat pemerintahan kementerian dalam negeri. Politik demografi yang kotor inilah yang menyebabkan persoalan daftar pemilih tetap (DPT) masih menjadi isu pada Pemilu 2014 ini.
Hingga kini juga masih ada kekhawatiran bahwa militer dan institusi intelijen digunakan untuk kepentingan politik 2014. Karena itu, persoalan digunakannya Lembaga Sandi Negara sempat menjadi isu yang panas sebelum Komisi Pemilihan Umum menghentikan rencana kerja sama dengan Lembaga Sandi Negara dalam menjaga data pemilu. Tumbuhnya lembaga-lembaga survei yang abal-abal juga mencerminkan ada upaya memanipulasi pilihan rakyat. Belum lagi soal betapa sulitnya Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menelusuri aliran dana parpol dan tokoh politik yang bakal maju sebagai capres/cawapres atau caleg.
Berbagai indikasi adanya politik hitam pada Pemilu 2014 menjadikan kita harus waspada dan bahu-membahu untuk menjaga agar perhelatan demokrasi yang amat akbar ini tidak dikotori oleh cara-cara berpolitik semacam itu. Apabila upaya pencegahan tak dilakukan, bukan hanya demokrasi hitam yang bermain di Indonesia, melainkan demokrasi kaum penjahat akan tetap ada di negeri ini. 
Ikrar Nusa Bhakti;
Profesor Riset di Pusat Penelitian Politik LIPI
Selengkapnya:
KOMPAS,  07 Januari 2014


0 komentar:

Posting Komentar